Foto2 jadul waktu di C 14 dan puncak
Puncak & C 14
Dasgron Part 2
Setelah nyari - nyari akhirnya nemu juga klise foto - foto dasgron & diconvert ke digital, Thanks to Dodi untuk klisenya


Masih pada kurus - kurus



Abis ngembat jagung tetangga
Buka Puasa Bersama - TPB - 2006 - 2008
Foto - foto Buka pusa bersama agb waktu TPB, tahun 2006 dan 2008
TPB - Rumah Ellie, ada yang inget tanggal berapa?
Buka Puasa Bersama di Plaza Semanggi - 6 Oktober 2006
Buka Puasa Bersama d i Pam ikul dan Restora n Cibiuk Bogor, 6 September 2008
Karena cuma pake kamera HP , jadinya gambar gelap :P
Kumpul AGB di Puncak - November 2003
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H
Dear AGB34-ers
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H
Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan baik lisan dan perbuatan. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima Allah SWT. Amin
Wassalam
Sempur, dari Prajurit hingga Wanita Penghibur
BOGOR – Kali ini kita coba sedikit mengupas cerita tentang daerah Sempur. Ada dua versi tentang asal muasal penamaan daerah ini. Beberapa sumber menyebutkan, Sempur berasal dari nama sebuah jenis pohon, dimana pada beberapa puluh tahun lalu, daerah ini banyak tumbuh pohon-pohon Sempur. Pohon ini memiliki buah yang menyerupai melon dalam ukuran yang kecil, dan rasanya seperti buah jambu air. Jika Anda penasaran seperti apa bentuk pohon itu, Anda bisa mendatangi Kebun Raya Bogor dan menanyakan kepada petugas yang ada disana tentang keberadaan pohon Sempur yang masih tumbuh disana.
Versi lain menyebutkan, Sempur itu berasal dari kata San Poor (bahasa Belanda-red) yang berarti tempat pemandian atau kolam renang. Sampai saat ini masih terdapat bekas-bekas keberadaan kolam renang tersebut, walaupun fungsinya sudah berubah sama sekali.
Pada zaman sebelum tahun 1900-an, Sempur merupakan kawasan yang diberi nama Kedung Halang yang meliputi Kampung Rambutan, Lebak Pilar, Sempur Kidul, Sempur Kaler, Taman Kencana dan daerah sekitarnya. Sempur merupakan daerah pengembangan pemukiman Belanda yang awalnya terpusat pada Istana Bogor dan terus menyebar dan meluas ke wilayah sekitarnya.
Saat itu Sempur memang merupakan lahan kosong. Sebuah lapang yang membentang luas diantara wilayah perbukitan yang mengarah ke Timur menuju Taman Kencana, Kebun Raya di sebelah Selatan, dan dearah Jalan Soedirman dari arah Barat yang dibelah oleh Sungai Ciliwung. Menuju arah Utara, terdapat lokasi perkebunan dan persawahan yang dikelola pribumi yang sebagian datang dari daerah luar Sempur seperti Bantarjati dan Babakan. Awal kepemilikan lahan biasanya dari inisiatif merawat dan mengelola, kemudian perlahan mulai diperjualbelikan atau sistem sewa.
Beberapa pemukiman pribumi awal, kemudian hadir di daerah sekitar perbukitan/tebing. Bagian wilayah lapang, kemudian berdiri bangunan-bangunan yang didirikan pemerintahan Belanda yang diperuntukkan bagi para pejabat pemerintahan Belanda yang bekerja di Istana dan kantor-kantor disekitarnya. Bahkan sekitar 6 bangunan yang dirancang oleh Arsitek ternama Eropa bernama Thomas Kaarsten, terdapat di Sempur. Selain itu, terdapat kawasan perumahan yang dikenal dengan ‘Rumah Hitam’.
Kawasan ini terdiri dari rumah-rumah yang awalnya diperuntukan bagi tahanan tentara KNIL Belanda. Rumah-rumah ini terletak di deretan ST (SMP 11 sekarang) sampai jembatan. Dikenal rumah hitam karena cat rumah tersebut berwarna hitam (ya, iya lah!), selain itu mungkin karena fungsinya sebagai rumah tahanan yang kesannya serem, jadi disebut rumah hitam.
Berdiri juga sebuah sekolah yang bernama Ambasche School di Sempur Kidul, tapi karena akan dibangun komplek perumahan militer, maka sekolahan tersebut pindah ke lokasi SMP 11 sekarang dan namanya diganti menjadi Sekolah Teknik atau sekolah pertukangan (diperkirakan 1942 mulai dikenal sebagai ST). Sekolah ini telah menerima murid umum baik pribumi, etnis Cina, maupun Indo Belanda.
Pada tahun 1930-an, kawasan ini sudah memiliki beberapa fasilitas seperti terdapatnya air ledeng, gas, dan listrik, bahkan alat komunikasi telepon walaupun fasilitas-fasilitas tersebut awalnya hanya untuk kepentingan para pejabat Belanda untuk keperluan tugas-tugas istana.
Sempur kemudian terus berkembang, melewati masa-masa peralihan dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain. Berdirilah pabrik roti bernama Brokkel milik orang Jerman yang sekarang sedang dibangun hotel Sempur Kencana. Dan pasca pemerintahan Jepang (1940-an) wilayah sempur ini juga terkenal dengan tempat para wanita penghibur. Masa itu para tentara KNIL secara paksa menggunakan para wanita untuk ajang pemuasan nafsu. Pada masa itu banyak terdapat gubuk-gubuk yang beratap daun aren sebagai rumah tinggal para wanita penghibur tersebut. Jadi yang namanya jablay, itu mungkin udah ada ya dari dulu.
Jadilah Sempur seperti saat ini, dimana terdapat pemukiman-pemukiman yang berkembang di dalamnya.
[Sumber: www.kampoengbogor.org]















































